Tokoh Perbukuan Islam Dari Masa Ke Masa

 


PROFIL TOKOH PERBUKUAN ISLAM DARI MASA KE MASA

HELVY TIANA ROSA

Helvy merupakan pendiri dan Ketua Umum Forum Lingkar Pena/ FLP (1997-2005), sebuah forum (calon) penulis muda beranggotakan lebih 5000 orang yang tersebar di 125 kota di Indonesia dan mancanegara. Melalui organisasi nirlaba tersebut Helvy banyak melakukan pemberdayaan masyarakat dan terlibat dalam membidani kelahiran para penulis baru di nusantara, khusunya kalangan muda, menengah ke bawah. Dalam 10 tahun FLP bekerjasama dengan lebih dari 30 penerbit dan berhasil menerbitkan tak kurang dari 600 buku karya para anggotanya. Helvy juga mempelopori dan mengelola “Rumah baCA dan HAsilkan karYA” (Rumah Cahaya) yang tersebar di berbagai propinsi di Indonesia. Karena kegiatan ini The Straits Times dan Koran Tempo menyebut Helvy sebagai Lokomotif Penulis Muda Indonesia (2003). Ia pun kerap diundang berbicara dalam berbagai forum sastra dan budaya di dalam dan luar negeri, seperti Malaysia, Singapura, Brunei, Thailand, Hong Kong, Jepang, Mesir hingga Amerika Serikat.

Sejak tahun 1990 Helvy telah memenangkan sayembara penulisan tingkat nasional, termasuk sebuah sayembara esai yang memberinya hadiah 100 juta rupiah. Namun menurutnya yang paling berkesan ketika ‘Fisabilillah” menjadi Juara Lomba Cipta Puisi Yayasan Iqra (1992), dengan HB Jassin sebagai Ketua Dewan Juri. “Jaring-Jaring Merah” terpilih sebagai salah satu cerpen terbaik Majalah Sastra Horison dalam satu dekade (1990-2000). Lelaki Kabut dan Boneka mendapat Anugerah Pena Forum Lingkar Pena sebagai Kumpulan Cerpen Terpuji (2002).

Beberapa penghargaan lain yang pernah diraihnya adalah sebagai Tokoh Perbukuan IBF Award dari IKAPI (2006), Tokoh Sastra Eramuslim Award (2006), Penghargaan Perempuan Indonesia Berprestasi dari Tabloid Nova dan Menteri Pemberdayaan Perempuan RI (2004), Ikon Perempuan Indonesia versi Majalah Gatra (2007), Ummi Award dari majalah Ummi (2004), Nominator Indonesia Berprestasi Award bidang Seni Budaya XL 2007, Muslimah Teladan versi Majalah Alia (2006), Penghargaan Ibuku Idolaku dari Benadryl dalam rangka Hari Ibu Tingkat Nasional (2002), Muslimah Berprestasi Bidang Sastra versi majalah Amanah (2000), Muslimah Peduli ke Nanggroe dari Universitas Syiah Kuala Banda Aceh (2001), dan lain-lain.

 

GOLA GONG

Heri Hendrayana Harris, atau lebih dikenal dengan nama pena Gola Gong, lahir di Purwakarta,15 Agustus 1963, pernah kuliah di FASA UNPAD Bandung. Setelah diterbitkannya seri petualangan Balada si Roy pada tahun 1989,ia menjadi wartawan tabloid Warta Pramuka(1990-1995) dan tabloid Karina (1994-1995). Ia juga sempat menjadi reporter Freelance di beberapa media massa. Lalu ia terjun ke dunia televisi menjadi penulis skenario, di antaranya komedi situasi Keluarga Van Danoe di RCTI (1993) dan Pondok Indah II di Anteve. Pada tahun 1995 Gola Gong bergabung dengan INDOSIAR terlibat dalam produksi kuis Terserah Anda dan sinetron Remaja 5. Tahun 1996 ia hengkang ke RCTI dan menggarap opera sabun Dua Sisi Mata Uang, (Agustus 2000), komedi situasi Ikhlas (Ramadhan 1997), Papa (Lebaran 2000), komedi superhero Sang Prabu (1999), mega sinetron Tauke Tembakau (tayang 2001), drama misteri Maharani , Pe-De dot kom, dan program spesial Tanah Air.Beberapa novelnya sedang disinetronkan PT.Indika Entertainment, Petualangan si Roy, Mata Elang, sampai Aku Seorang Kapiten. Sinetron yang diangkat dari novel trilogi Islaminya (Pada-Mu Aku Bersimpuh) ditayangkan pada bulan Ramadhan 2001 di RCTI OKE, serta Al Bahri Aku Datang dari Lautan di TV7.Selain menulis novel, puisi-puisinya pernah dimuat di HAI, Republika, Suara Muhammadiyah, tabloid Hikmah, Mitra Desa Bandung, dan Harian Banten. Antologi puisinya bersama Toto ST Radik terkumpul dalam Jejak Tiga, Ode Kampung,dan Bebegig, serta tergabung dalam Antologi Puisi Indonesia 1997 versi Komunitas Sastra Indonesia.

 

HAIDAR BAGIR

Haidar Bagir , terkenal di dua dunia yaitu dunia buku dan pendidikan lahir diSolo pada tanggal 20 Februari 1957.  Beliau mengenyam pendidikan di perguruan tinggi selama 6 tahun dan lulus pada tahun1982 di Institut Teknologi Bandung dengan mengambil jurusan Teknik Industri. Setelah lulus, beliau mendirikan dan sekaligus menjadi presiden direktur rumah penerbitan buku di Bandung yaitu Mizan Publishing House, yang sampai sekarang dikenal telah banyak menerbitkan buku-buku yang best seller.
Haidar sempat meninggalkan Mizan, hasil rintisannya itu. Merasa terjebak pada rutinitas kerja, dia memutuskan untuk belajar lagi di Program Pasca Sarjana, Institut Agama Islam Syarif Hidayatullah, Jakarta pada 1988. Tapi ia tak sempat menyelesaikan tesisnya gara-gara mendapat beasiswa di Fullbright untuk belajar di Center for Middle Eastern Studies, Harvard University, AS pada 1990.Ia juga mendapat beasiswa riset untuk penulisan disertasinya mengenai Sejarah dan Filsafat Islam dari Fullbright di Indiana University, Bloomington, AS. Tak puas dengan ilmu yang didapatnya, kemudian beliau melanjutkan pendidikannya untuk meraih gelar doktor dalam bidang Filsafat Islam di Universitas Indonesia, Jakarta. Beliau menulis disertasi untuk gelar doktornya dengan judul “Pengalaman Mistik di Epistemologi dari Mulla Shadra dan perbandingan dengan ide Heidgger tentang berpikir”.
Pengalaman-pengalaman pekerjaan yang pernah beliau lakukan yaitu, menjadi direktur utama GUIDE (Gudwah Islamic Digital Edutainment) Jakarta, ketua Pusat Kajian Tasawuf Positif IIMaN, Ketua Badan Pendiri YASMIN (Yayasan Imdad Mustadh’afin), staf pengajar Jurusan Filsafat Universitas Madina Ilmu (1998), staf pengajar Jurusan Filsafat Universitas Indonesia (1996), staf pengajar Jurusan Filsafat Universitas Paramadina Mulya, Jakarta (1997), Pendiri Madina Ilniu College Jakarta (1988), dan direktur Madina Ilniu Center for the Study of Philosophy Jakarta (1998).
Penghargaan-penghargaan lainnya yang beliau terima yaitu:
  • Fulbright Grant for Graduate Studies at the Center for Middle Eastern Studies, Harvard University, USA (1990-1992).
  • Fulbright Grant for Doctoral Research at the Department of History and Philosophy of Science, Indiana University, Bloomington, Indiana, USA (2000/2001).
  • Fuibright Visiting Specialist Program at The University of Sciences, Philadelphia (March—April 2005).
Selain sibuk mengurus yayasan, menjadi direktur sebuah rumah penerbitan, beliau juga aktif menulis buku, artikel, dan juga sempat membuat terjemahan dari beberapa buku. Berikut judul-judul buku, artikel yang telah beliau tulis dan juga buku yang telah beliau terjemahkan.

Muhammad Quraish Shihab

Muhammad Quraish Shihab lahir di Rappang, Sulawesi Selatan, pada 16 Februari 1944. Setelah menyelesaikan pendidikan dasarnya di Ujung Pandang, dia melanjutkan pendidikan menengahnya di Malang, sambil "nyantri" di Pondok Pesantren Darul-Hadits Al-Faqihiyyah. Pada 1958, dia berangkat ke Kairo, Mesir, dan diterima di kelas II Tsanawiyyah Al-Azhar. Pada 1967, dia meraih gelar Lc (S-1) pada Fakultas Ushuluddin Jurusan Tafsir dan Hadis Universitas Al-Azhar. Kemudian dia melanjutkan pendidikannya di fakultas yang sama, dan pada 1969 meraih gelar MA untuk spesialisasi bidang Tafsir Al-Quran dengan tesis berjudul Al-I 'jaz Al-Tasyri'iy li Al-Qur an Al-Karim.

Sekembalinya ke Ujung Pandang, Quraish Shihab dipercayakan untuk menjabat Wakil Rektor bidang Akademis dan Kemahasiswaan pada IAIN Alauddin, Ujung Pandang. Selain itu, dia juga diserahi jabatan-jabatan lain, baik di dalam kampus seperti Koordinator Perguruan Tinggi Swasta (Wilayah VII Indonesia Bagian Timur), maupun di luar kampus seperti Pembantu Pimpinan Kepolisian Indonesia Timur dalam bidang pembinaan mental. Selama di Ujung Pandang ini, dia juga sempat melakukan berbagai penelitian; antara lain, penelitian dengan tema "Penerapan Kerukunan Hidup Beragama di Indonesia Timur" (1975) dan "Masalah Wakaf Sulawesi Selatan" (1978).

Pada 1980, Quraish Shihab kembali ke Kairo dan melanjutkan pendidikannya di almamaternya yang lama, Universitas Al-Azhar. Pada 1982, dengan disertasi berjudul Nazhm Al-Durar li Al-Biqa'iy, Tahqiq wa Dirasah, dia berhasil meraih gelar doktor dalam ilmu-ilmu Al-Quran dengan yudisium Summa Cum Laude disertai penghargaan tingkat I (mumtat ma'a martabat al-syaraf al-'ula).

Sekembalinya ke Indonesia, sejak 1984, Quraish Shihab ditugaskan di Fakultas Ushuluddin dan Fakultas Pasca-Sarjana IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta. Selain itu, di luar kampus, dia juga dipercayakan untuk menduduki berbagai jabatan. Antara lain: Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat (sejak 1984); Anggota Lajnah Pentashih Al-Quran Departemen Agama (sejak 1989); Anggota Badan Pertimbangan Pendidikan Nasional (sejak 1989), dan Ketua Lembaga Pengembangan. Dia juga banyak terlibat dalam beberapa organisasi profesional; antara lain: Pengurus Perhimpunan Ilmu-ilmu Syari'ah; Pengurus Konsorsium Ilmu-ilmu Agama Departemen Pendidikan dan Kebudayaan; dan Asisten Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI).

Di sela-sela segala kesibukannya itu, dia juga terlibat dalam berbagai kegiatan ilmiah di dalam maupun luar negeri.

Yang tidak kalah pentingnya, Quraish Shihab juga aktif dalam kegiatan tulis-menulis. Di surat kabar Pelita, pada setiap hari Rabu dia menulis dalam rubrik "Pelita Hati." Dia juga mengasuh rubrik "Tafsir Al-Amanah" dalam majalah dua mingguan yang terbit di Jakarta, Amanah. Selain itu, dia juga tercatat sebagai anggota Dewan Redaksi majalah Ulumul Qur'an dan Mimbar Ulama, keduanya terbit di Jakarta. Selain kontribusinya untuk berbagai buku suntingan dan jurnal-jurnal ilmiah.

MIFTAH FARIDL
Prof. Dr. Miftah Faridl merupakan Guru Besar Etika dan Humaniora ITB. Mendapatkan gelar profesor dalam bidang etika dan humaniora dari ITB melalui SK Menteri Pendidikan Nasional tertanggal 1 Agustus 2008. Di Masjid Salman ITB sendiri, beliau merupakan Imam Besar dan anggota Pembina YPM Salman ITB.

Miftah Faridl dilahirkan di Cianjur, 18 Oktober 1944. Menyelesaikan pendidikannya di Universitas Al Irsyad, Solo, pada 1967. Dua tahun kemudian, beliau menyelesaikan pendidikan magisternya di Institut Agama Islam Muhammadiyah Solo pada 1969. Sedangkan gelar doktornya beliau raih di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syarif Hidayatullah Jakarta dalam bidang ilmu agama Islam.

Pada 1970, Miftah Faridl diterima sebagai dosen untuk mata kuliah agama di ITB. Selain itu, beliau juga mulai aktif di Masjid Salman ITB dan kerap mendampingi Bang Imad di masjid kampus pertama di Indonesia tersebut. Ayah 4 orang anak ini juga produktif dalam menghasilkan buku. Sejak tahun 1980, beliau sudah menghasilkan lebih dari 30 judul buku yang beberapa di antaranya masih dicetak hingga saat ini.

Saat ini, beliau diamanahi sebagai ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Bandung. Beliau juga merupakan ketua yayasan Universitas Islam Bandung (Unisba) dan Pimpinan Pondok Pesantren Ad-Dakwah. Selain itu, beliau juga diamanahi Ketua Majelis Syura Dewan Dakwah Islam (DDI) dan Komisaris Utama Biro Perjalanan Haji Safari Suci.


AHMAD SYAFI'I MAARIF


Lahir di Sumpur Kudus, Sumatera Barat, tanggal 31 Mei 1935. Pernah menjadi dosen FPIPS IKIP, IAIN Sunan Kalijaga dan Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta. Penasihat PP Muhammadiyah (2005-sekarang), Guru Besar Emeritus Universitas Negeri Yogyakarta (2005-sekarang), dan Pendiri Maarif Institute (2003-sekarang).

 

Pernah belajar di Madrasah Mualimin Muhammadiyah Lintau (1953) dan Yogyakarta (1956), FKIP Universitas Cokroaminoto Surakarta sampai sarjana muda (1964). Tamat FKIS IKIP Yogyakarta (1968), belajar sejarah pada Northern Illinois University (1973) dan memperoleh gelar M.A. dalam ilmu sejarah pada Ohio University, Athens, Amerika Serikat (1980). Meraih gelar Ph.D. dalam bidang pemikiran Islam University of Chicago, Chicago, Amerika Serikat (1983), dengan disertasi berjudul “Islam as the Basis of State: A Study of the Islamic Political Ideas as Reflected in the Constituent Assembly Debates in Indonesia”.

 

Selama menjadi dosen dan belajar di Amerika Serikat sangat sering menghadiri seminar dan simposium di dalam dan luar negeri. Juga, sering menulis dalam jurnal (Informasi, Sigma Pi Gama dan Mizan), majalah (Panji Masyarakat, Suara Muhammadiyah, Dermaha, Ishlah dan Genta) dan surat kabar (Mercu Suar, Abadi, Adil dan Kedaulatan Rakyat). Buku-buku yang telah ditulis antara lain Gerakan Komunis di Vietnam, Mengapa Vietnam Jatuh Seluruhnya ke Tangan Komunis?, Aspirasi Umat Islam Indonesia (tulisan bersama), Percik-Percik Pemikiran Iqbal (bersama Mohammad Diponegoro), Dinamika Islam: Potret Perkembangan Islam di Indonesia, Duta Islam untuk Dunia Moderen (bersama Mohammad Diponegoro), Islam, Kenapa Tidak! dan Orientalisme dan Humanisme Sekuler (bersama DR. M. Amien Rais), Masa Depan Dalam Taruhan (2000), Mencari Autentisitas (2004), Meluruskan Makna Jihad (2005), Menerobos Kemelut (2005), Menggugah Nurani Bangsa (2005), Titik-titik Kisar di Perjalananku (segera terbit 2006), dan Tuhan Menyapa Kita (segera terbit 2006). Hingga sekarang, dia masih aktif sebagai kolumnis dan pemakalah di dalam dan luar negeri.

 

Sedangkan penghargaan yang pernah diperoleh oleh beliau diantaranya adalah Hamengku Buwono IX (2004) atas kegigihannya memperjuangkan kehidupan yang harmonis membangun hubungan antar agama yang baik, Magsaysay Award pada tahun 2008 (Manila, 31 Agustus 2008) untuk kategori Peace and International Understanding, Bacharuddin Jusuf Habibie Award 2010 dalam bidang khusus Harmoni Kehidupan Beragama, Tokoh Perbukuan Islam 2011 (4/3/2011) dari Islamic Book Fair (IBF) Award atas karya-karyanya yang dinilai banyak memberikan inspirasi serta kontribusi bagi perkembangan perbukuan di Indonesia terutama mengenai buku-buku Islam, Masyarakat Ilmu Pemerintahan Indonesia (MIPI) Award pada tahun 2011 (28/5/2011) untuk kategori Tokoh Pemerhati Pemerintahan atas kinerja Buya yang tidak henti-hentinya memeberikan masukan yang kritik-konsruktif, dan yang paling hangat ialah penghargaan Lifetime Achievement Soegeng Sarjadi Award on Good Governance untuk kategori Intelectual Integrity dari Soegeng Sarjadi Syndicate (18/8/2011) yang menganggap Buya sebagai tokoh yang terus-m,enerus memperjuangkan hak-hak publik melalui kritikan dan ajakan untuk menegakkan keadilan di Indonesia.

 


ASMA NADIA

 

Asma Nadia adalah  salah satu penulis best seller wanita paling produktif di Indonesia. Dalam waktu 10 tahun Nadia telah menulis lebih dari 46 buku.  Berbagai penghargaan nasional dan regional di bidang kepenulisan juga telah diraihnya, antara lain: Pengarang Terbaik Nasional penerima Adikarya Ikapi Award tahun 2000, 2001, dan 2005, peraih Penghargaan dari Majelis Sastra Asia Tenggara (Mastera) tahun 2005,  Anugrah IBF Award sebagai novelis islami terbaik (2008), Peserta terbaik lokakarya perempuan penulis naskah drama yang diadakan FIB UI dan Dewan Kesenian Jakarta. Tokoh Perubahan Republika 2010 terakhir tahun 2011 Sakinah Bersamamu salah satu karyanya menempatkan Asma Nadia sebagai Penulis Fiksi Terfavorit versi Anugerah Pembaca Goodreads Indonesia.

 

Kiprah penulis yang masa kecilnya dihabiskan di rumah kontrakan sederhana di pinggir rel kereta api ini juga merambah ke dunia Internasional. Ia pernah diundang menghadiri acara kepenulisan di Singapura, Malaysia, dan Brunei Darussalam. Tahun 2006 ia menjadi satu dari dua sastrawan muda Indonesia yang diundang untuk tinggal Korea Selatan selama 6 bulan, dalam program Writers in Residence. Undangan yang sama diperolehnya dari Le Chateau de Lavigny (2009) di  Switzerland.

Asma Nadia juga pernah diundang untuk menjadi pembicara al. pada forum Seoul Young Writers Festival dan The 2nd Asia Literature Forum di Gwangju, serta memberikan workshop kepenulisan di berbagai pelosok tanah air, juga kepada pelajar Indonesia di Mesir, Switzerland, Inggris, Jerman, Roma dan Vatican, Austria, serta buruh migran di Hongkong dan Malaysia.

Sekalipun tidak mempunyai gelar kesarjanaan, karena ketika kecil sakit-sakitan (jantung, paru-paru, gegar otak, tumor) ia telah berbicara di hadapan lebih dari ratusan ribu audience termasuk di berbagai universitas ternama di Indonesia, seperti Universitas Indonesia, ITB, UNPAD, UGM, IPB, Unsyiah, Universitas Brawijaya, dan perguruan tinggi lainnya hingga ke sekolah dan instansi daerah.

Salah satu cerpennya yang berjudul Emak Ingin Naik Haji telah difilmkan dan mendapat anugrah film terpuji dalam Festival Film Bandung. 100% royalti dari buku tersebut alhamdulillah telah memberangkatkan Ustadz dan Ustadzah yang kurang mampu ke tanah suci, dan semoga kebaikan lain terus bergulir dari buku ini, dengan lebih banyaknya dukungan pembaca. Karya lain dari Asma Nadia yang telah diangkat ke layar lebar adalah Rumah Tanpa Jendela, 2011, serta Ummi Aminah yang disutradarai oleh Aditya Gumai, 2012. Peran Asma Nadia tidak hanya sebatas menghasilkan karya yang kemudian diadopsi menjadi film, dia juga beberapa kali terlibat langsung dalam pengerjaan skenario sinetron yang ditayangkan di televisi, antara lain; Pintu Surga, serial yang khusus ditayangkan selama bulan Ramadhan di salah satu televisi swasta Indonesia.

Sebagian royalti dari buku-buku yang telah ditulisnya dimanfaatkan  untuk mengembangkan Rumah Baca Asma Nadia, perpustakaan dan tempat mengasah kreativitas bagi anak dan remaja kurang mampu, yang tersebar 39 daerah di tanah air, termasuk Papua. Serta 2 perpustakaan dhuafa di Hongkong bagi buruh migran Indonesia. Melalui mailinglist pembacaasmanadia@yahoogroups.com, ia memberdayakan ratusan pembacanya yang sebagian besar ibu rumah tangga untuk ikut menulis. Hasil dari gerakan itu adalah lahirnya puluhan antologi.

Saat ini selain merupakan CEO Asma Nadia Publishing House, penerbitan yang didirikannya setahun lalu, Asma Nadia sedang giat menularkan semangat menulis kepada keluarga Indonesia- bersama suami, dan anak-anaknya yang juga telah diajaknya ikut menulis.

 

 

Comments  

 
0 #1 abcdefgalimatun sadiah 2013-03-01 10:21
subhanallah,mud ah-mudahan saya dapat mengikuti jejak mereka amin...
Quote
 

Add comment


Security code
Refresh

IKAPI

There seems to be an error with the player !

Alamat Kantor
IKAPI DKI Jakarta
Jl. Mustika Jaya No.9 Rawamangun. Jakarta 13220
Telp: 021-47862881, Fax: 021-4712323, Email: islamic_bookfair@yahoo.com
YM: