|
Tokoh Islam: Ibnu Sina Dan Buku Monumental-Nya |
|
Al Qanun 11 al-Tibb yang di Barat dikenal dengan Canons, boleh dikata merupakan ‘kitab suci’ ilmu kesehatan pada masanya. Tanpa merujuk ke buku tersebut, ilmu obat-obatan dan farmakologi dirasakan tidak akan sempurna. Tidak heran bila Ibnu Sina, pengarang buku tersebut begitu dihargai kejeniusan dan kontribusinya dalam ilmu kedokteran, sampai sekarang. Bahkan potret Ibnu Sina, hingga kini menjadi salah satu pajangan dinding besar gedung Fakultas Kedokteran Universitas Paris. Ibnun Sina yang memiliki nama lengkap Abu Ali al-Hussein Ibn Abdallah, lahir di Afshana dekat Bukhara (Asia Tengah) pada tahun 981. Pada usia sepuluh tahun, dia telah menguasai dengan baik studi tentang Al Quran dan ilmu-ilmu clasar. Ilmu logika, dipelajarinya dari Abu Abdallah Natili, seorang filsuf besar pada masa itu. Filsafatnya meliputi buku-buku Islam dan Yunani yang sangat beragam. . Kemampuannya dalam bidang pengobatan sudah begitu mumpuni di usianya yang masih belia. Bahkan ketika usianya baru tujuhbelas tahun, dia sudah berhasil menyembuhkan penguasa Bukhara, Nun Ibn Manshur. Padahal sebelumnya para pakar kesehatan kerajaan sudah menyerah, tak satu pun yang mampu mengatasi penyakit sang raja. . Atas jasanya itu, Manshur bermaksud memberinya hadiah. Namun Ibnu Sina justru lebih memilih izin dari sang raja untuk diperkenankan meggunakan perpustakaan kerajaan yang dikenal memiliki koleksi buku-buku yang unik. Setelah ayahnya meninggal, Ibnu Sina merantau ke Jurjan, dan bertemu dengan Abu Raihan al-Biruni, yang kala itu sangat termashur. Setelah itu dia pindah ke Rayy, dan melanjutkan perjalanan ke Hamadan, tempat yang memberinya inspirasi untuk bukunya yang terkenal, Al Qanun 11 al-Tibb. Di Hamadan dia juga menyembuhkan sang penguasa, Syams al-Daulah, dari penyakit perut yang akut, sebelum melanjutkan lagi perjalanannya menuju Isfahan (kini Iran) untuk menyelesaikan karya-karyanya yang monumental.
Al Qanun fi al-Jibb
Al Qanun fi al-Tibb atau Norma-norma Kedokteran adalah sumbangan terbesar Ibnu Sina yang di Barat dikenal dengan Avicenna, terhadap ilmu pengetahuan. Karya yang matnpu bertahan selama enam abad ini diterjemahkan ke bahasa Latin oleh Gerard dari Cremena pada abad ke-12. Sejak saat itu Qanun menjadi buku wajib di sekolah-sekolah medis di Eropa. Pada abad ke-15 buku ini mengalami cetak ulang sebanyak enam belas kali. Lima belas cetakan dalam bahasa Latin, satu cetakan dalam bahasa Yahudi. Sedangkan pada abad berikutnya, Qanun mengalami cetak ulang sebanyak dua puluh kali. Cameron Gruner pada tahun 1930 menerjemahkan sebagian isi buku itu ke bahasa Inggris dengan judul Risalah atas Norma Medis Avicenna. Dan selama lebih dari lima abad, Qanun menjadi pemandu bagi ilmu kedokteran di Barat. Tidak heran bila Dr. William Osier, penulis buku Evolution of Modern Science, mengatakan bahwa Qanun telah menjadi semacam ‘kitab suci’ kesehatan yang bertahan lebih lama dibanding karya mana pun. Qanun boleh dikata merupakan Ensiklopedi Pengobatan yang sangat lengkap. Buku ini menelaah ulang pengetahuan kedokteran, baik dari sumber Islam maupun sumber-sumber kuna. Ibnu Sina tidak hanya menggabungkan pengetahuan yang telah ada tapi juga menciptakan karya-karya orisinal yang meliputi beberapa pengobatan umum, obat-obatan (760 macam), penyakit-penyakit mulai dari kepala hingga kakl, khususnya Patologi (ilmu tentang penyakit) dan Farmakopeia (Farmakope). Di antara beberapa kontribusinya yang merupakan pengembangan besar adalah identifikasinya terhadap sifat-sifat penyakit menular seperti Pththsis dan Tuberculosis (TBC), penyebaran penyakit melalui air dan tanah, dan interaksi antara ilmu psikologi dan kedokteran. Ibnu Sina pula yang pertama kali menjelaskan tentang Meningitis (radang selaput otak) serta memberi penjelasan yang padat tentang anatomi, ginekologi, kesehatan anak, serta menemukan perawatan untuk Lachrymal Fistula, disusul dengan penyelidikan medis terhadap saluran pembuluh darah. Hingga kini Qanun masih menjadi acuan para pakar untuk penyelidikan anatomi, karena buku ini mampu menjelaskan deskripsi secara gratis maupun penjelasan rinci mengenai Sclera, Kornea, Koroid, Iris, Retina, Lensa, Urat syaraf, juga Optic Chiasma. Dalam mendalami anatomi, Ibnu Sina menentang sikap praduga atau prakiraan. Dia mengimbau para pakar ilmu fisik dan ilmu bedah untuk kembali mendasarkan pengetahuannya pada studi tentang tubuh manusia. Dia mengamati bahwa Aorta sebenarnya terdiri dari tiga saluran yang terbuka saat darah mengalir dari dan di dalam jantung selama kontraksi, dan tertutup selama relaksasi, sehingga tidak akan terjadi luapan aliran darah ke dalam jantung. Dia juga menegaskan bahwa otot dapat digerakkan karena adanya syaraf yang terdapat di dalamnya. Demikian pula rasa sakit yang dirasakan pada bagian otot, juga disebabkan adanya urat syaraf yang menerima rangsangan rasa sakit tersebut. Lebih jauh dia mengadakan observasi dan menemukan bahwa ternyata di dalam organ hati, limpa dan ginjal, tidak ditemukan urat syaraf. Sebab urat syaraf justru tertanam pada lapisan luar organ-organ itu.
Karya-karya Lainnya Selain ilmu pengobatan dan kesehatan, Ibnu Sina juga menyumbangkan pemikirannya pada ilmu matematika, fisika, musik, dan bidang-bidang lain. Penyelidikannya dalam bidang astronomi membuatnya berhasil merancang perangkat semacam Vernier yang meningkatkan ketepatan pengukuran suatu alat. Di bidang fisika, sumbangan pemikirannya mengenai bermacam bentuk energi, kalori, cahaya, mekanika, konsep gaya, ruang hampa udara, dan bilangan tak terhingga. Dalam bidang kimia, Ibnu Sina adalah salah satu dari sekian banyak orang yang tidak percaya pada transmutasi kimia logam. Pandangan ini ditentang secara radikal pada masa itu. Risalahnya mgngenai mineral merupakan salah satu sumber utama geologi yang digunakan oleh para ensiklopedis Kristen pada abad ke-13. Penemuannya di bidang musik merupakan perbaikan dari karya Farabi (al-Pharabius), yakni dengan menemukan suatu rumus bahwa jika serangkaian konsonan dirumuskan (n + 1) / n, maka telinga tidak dapat membedakan konsonan tersebut pada n – 45. Lebih jauh dia mengatakan, penggandaan terhadap satuan seperempat dan seperlima pada konsep ini merupakan langkah benar menuju sistem harmonisasi. Karya Ibnu Sina dalam bidang filsafat yang terkenal adalah Al-Najat, Isyarat, dan al-Shifa (buku yang berisi tentang penyembuhan penyakit) merupakan ensiklopedi filosofis. Di dalamnya berisi jangkauan pengetahuan yang luas, dari filsafat hingga ilmu pengetahuan. Filsafat Ibnu Sina merupakan penggabungan tradisi Aristotelian, pengaruh Neoplatonic dan teologi Islam. Ibnu Sina mengelompokkan seluruh bidang ilmu ke dalam dua kategori besar, yakni: pengetahuan teoritis dan pengetahuan praktis. Pengetahuan teoritis meliputi fisika, matematika, dan metafisika, sedangkan pengetahuan praktis meliputi etika, ilmu ekonomi, dan ilmu politik. Jenius yang satu ini tidak pernah berhenti mengembara, baik secara fisik maupun secara batin. Secara fisik, dia terus berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain, untuk memuaskan rasa ingin tahunya terhadap segala hal, serta untuk dapat belajar, belajar, dan belajar. Karena terlalu banyak memeras otak dan diperparah oleh gejolak politik pada masa itu, kesehatannya semakin memburuk. Akhirnya, pada tahun 1037 dia kembali ke Hamadan, dan meninggal di sana. (amanah)
IBNU SINA : “Bapak Kedokteran Dunia”
Abu Ali al Husain ibn Abdallah ibn Sina adalah nama lengkap Ibnu Sina, yang lebih dikenal sebagai “Aviciena” oleh masyarakat barat. Dia adalah salah seorang tokoh terbesar sepanjang zaman, seorang jenius yang mahir dalam berbagai cabang ilmu. Dia lah pembuat ensiklopedi terkemuka dan pakar dalam bidang Kedokteran, Filsafat, Logika, Matematika, Astronomi, musik, dan puisi. Ibnu Sina dilahirkan pada tahun 980 M / 370 H di Afshinah, sebuah desa kecil tempat asal ibunya, di dekat Bukhara. Ayahnya, Abdullah, adalah seorang Gubernur Samanite yang kemudian ditugaskan di Bukhara. Sejak kecil ia telah memperlihatkan intelegensianya yang cemerlang dan kemajuan yang luar biasa dalam menerima pendidikan, ia telah hafal al-Qur’an pada usia 10 tahun. Nama Ibnu Sina semakin melejit tatkala ia mampu menyembuhkan penyakit raja Bukhara, Nooh ibnu Mansoor. Saat itu ia baru berusia 17 tahun. Sebagai penghargaan, sang raja meminta Ibnu Sina menetap di istana, setidaknya sementara selama sang raja dalam proses penyembuhan. Namun Ibnu Sina menolaknya dengan halus. Sebagai imbalan ia hanya meminta izin untuk menggunakan perpustakaan kerajaan yang kuno dan antik. Tujuannya adalah mencari berbagai referensi dasar untuk menambah ilmunya agar lebih luas dan berkembang. Kemampuan ibnu Sina yang cepat menyerap berbagai cabang ilmu pengetahuan membuatnya menguasai berbagai macam materi intelektual dari perpustakaan Kerajaan pada usia 21. Setelah ayahnya wafat, ia meninggalkan Bukhara karena gangguan politik dan pergi ke kota Gorgan, yang tekenal dengan kebudayaannya yang tinggi. Dia diundang dengan tulus oleh Raja Khawarizm, pelindung besar kebudayaan dan pendidikan. Di Gorgan ia membuka praktek dokter, bergerak dalam bidang pendidikan, dan menulis buku. Setelah itu, Ibnu Sina melanjutkan lagi perjalannya, antara lain ke Kota Ravy dan Kota Hamadan. Sampai kini ilmunya yang ditulis dalam buku “Al Qanun Fi al-Tib” tetap menjadi dasar bagi perkembangan ilmu kedokteran dan pengobatan dunia. Karena itu Ibnu Sina menjadi bagian tak terpisahkan dari perkembangan ilmu kedokteran dunia. Bukunya “Al Qanun” “diterjemahkan” menjadi “The Cannon” oleh pihak Barat, yang kemudian menjadi rujukan banyak ilmuwan abad pertengahan. Buku itu diantaranya berisi eksiklopedia dengan jumlah jutaan item tentang pengobatan dan obat-obatan. Bahkan diperkenalkan penyembuhan secara sistematis dan dijadikan rujukan selama tujuh abad kemudian (sampai abad ke-17). Ibnu Sina meninggal pada tahun 1073, saat kembali di kota yang disukainya, Hamadan. Walau ia sudah meninggal, namun berbagai ilmunya sangat berguna dan digunakan untuk menyembuhkan berbagai penyakit yang kini diderita umat manusia.
|
|
Khaerudin, (Ketua Panitia IBF ke-11) |
|
Khaerudin, (Ketua Panitia IBF ke-11)
Bagamana sejarah awal Islamic Bok Fair (IBF) ?
Islamic Book Fair sebenarnya melanjutkan kesuksesan Pameran Festival Istiqlal yang pernah diadakan tahun 1992-1994 oleh BPPMI (Badan Pusat Perpustakaan Masjid Indonesia).
Apa Tujuan diadakannya event IBF?
Pertama, memfasilitasi kegelisahan anggota Penerbit Buku Islam (Pokja Buku Islam) dalam menghadapi kondisi krisis ekonomi yang berdampak kepada menurunnya daya beli masyarakat khususnya buku “ agama Islam”, sehingga dirasa perlu untuk memamerkan produk buku baru yang diterbitkan oleh penerbit buku Islam serta sebagai alternatif dalam menjual produk lama “(cuci gudang)”. Kedua, sebagai bentuk alternatif pemasaran, selain pemasaran dan distribusi terhadap toko buku. Namun dalam perkembangannya IBF, alhamdulillah bukan sekedar ajang promosi bagi penerbit buku Islam akan tetapi berkembang kepada produk penunjang yang dibutuhkan kaum muslimin dan muslimat. Bahkan sampai pada lembaga Perbankan syari’ah, Lembaga Pendidikan, Organisai Ke Islaman lainnya.
Untuk pilihan tema IBF ke-11, apa yang melatarbelakangi pemilihan tema itu?
Ya tema IBF ke-11 adalah “Kuat dan Mandiri dengan Pendidikan Qur’ani”. Dari beberapa tahun sebelumnya, panitia selalu merancang tema global berdasarakan perkembangan kondisi faktual masyarakat kita. Berdasarkan perkembangan maraknya lembaga pendidikan yang dikelola pihak swasta (TQ, TPA, Sekolan Islam Terpadu dan Boarding Scool) yang berbasiskan pendidikan qur’ani mengalami sambutan yang luar biasa dari masyarakat dan kepedulian pemerintah dengan meningkatkan APBN di bidang pendidikan. Maka panitia memlih tema tersebut.
Tentang konsep IBF ke-11 sendiri seperti apa?
Acara yang berlangsung selama 10 hari penyelenggaraan ini diharapkan sebagai media komunikasi insan perbukuan, media bisnis center serta edutainment. Dari jenis acara yang akan ditampilkan di IBF ke-11, dikategorisasi meliputi, Temu tokoh Nasional dan Intenasional, Launching Produk dan Bedah Buku, Festival Studi Islam dan Matematika Anak Muslim dan Festival Nasyid. Para tokoh yang akan dihadirkan dalam acara ini diantaranya Hidayat Nurwahid, Arifin Ilham, Habiburrahman, KH. Ahsin Sakho Muhammad, Komarudin Hidayat, dr.Joserizal Jurnalis, Ahmad Fuadi. Pada acara pembukaan, kami masih mengusahakan dibuka oleh Dahlan Iskan (Menag BUMN) atau Yusuf Kalla (ketua PMI).
Sasaran pengunjung pameran buku terbesar ini siapa saja?
Masyarakat terdidik mulai dari Mahasiswa, Pelajar dan Dosen serta guru-guru, Pustakawan baik dari intsatnsi pemerintah atau swasta. Juga Masyarakat Perbukuan seperti Penulis, Penterjemah, pelaku usaha penerbitan dan distributor/ toko buku. Serta komunitas Pelaku bisnis berbasis Syariah Perbankan, asuransi, Biro perjalana Haji/Umrah, Lembaga Pendidikan Berbasis Islam, Pesantren dll. Dan tentunya Masyarakat umum di wilayah Jabodetabek dan sekitarnya
Bagaimana dengan perkembangan jumlah pengunjung IBF dari tahun ke tahun?
Sejak IBF ke-1 sampai terakhir, pertambahan jumlah pengunjung ke pameran cukup signifikan. IBF ke-1 (2002) = 108.000, IBF ke-10 (2011) = 385.000 (kenaikan sekitar 375% :10 thh=37.5%). Mempertimbangkan kapasitas tempat penyelenggaran IBF Istora Gelora Bung Karno Senayan Jakarta, maka kami menargetkan jumlah pengunjung 390.000.
Untuk jumlah Peserta yang ikut dalam pameran kali ini berapa?
Untuk penerbit yang ikut serta ada sekitar 85 perusahaan penerbitan. Juga ada peserta dari luar negeri seperti Malaysia, Brunai Darusslam, dan negara Timur tengah; Mesir). Selain penerbit, peserta IBF ke-11 juga ada Toko Buku, Ditributor, Pengusaha Busana Muslim/Muslimah, Perlengkapan Muslimah, Perbankan Syariah, yang jumlahnya sekitar 25 Perusahaan.
Tentang IBF Award 2012, konsepnya seperti apa?
Ya, IBF Award merupakan ajang penganugerahan penghargaan dari IKAPI DKI Jakarta kepada insan perbukuan Islam di tanah air, yang terbagi menjadi 2 kelompok yaitu Tokoh Perbukuan Islam dan Buku Islam Terbaik. Penilaian untuk Tokoh Perbukuan Islam dilakukan oleh Pengurus IKAPI DKI Jakarta, sedangkan untuk kelompok buku Islam terbaik penilaian dilakukan oleh Dewan Juri yang terdiri dari 1 orang Ketua dan 4 orang anggota.
Selaras dengan tema Islamic Book Fair tahun 2012, IBF Award tahun 2012 diharapkan dapat turut berperan dalam membangun generasi Islam yang kuat dan mandiri dengan pendidikan Qur’ani.
Kategori yang akan dilombakan untuk IBF ward tahun 2012 nanti apa saja?
Pada IBF ke-11 ini, kategorisasinya meliputi Fiksi Anak, Fiksi Dewasa, Non Fiksi Anak
Non Fiksi Dewasa, serta Terjemahan.
Kriteria penilaian untuk IBF Award 2012?
Untuk penilaian Tokoh Perbukuan Nasional, diberikan kepada Tokoh Perbukuan Islam yang dianggap telah memberikan kiprah dan kontribusi positif serta berperan aktif dalam pertumbuhan minat baca dan perbukuan Islam di Indonesia khususnya dalam kurun waktu 5 (lima) tahun terakhir. Penerima bisa berasal dari berbagai profesi di dunia perbukuan, motivator, penggagas minat baca, penulis, editor, ilustrator, desainer dll. Penilai dilakukan pengurus IKAPI DKI Jakarta, hasil penilaian bersifat mutlak dan tidak dapat diganggu gugat.
Ada beberapa kriteria dan aspek penilaian buku Islam terbaik IBF Award, di antaranya adalah untuk kategori fiksi meliputi distingsi, wawasan dan pesan keislaman, teknik penceritaan, bahasa dan gaya penyampaian, teknis editorial, dan tampilan fisik. Untuk kategori nonfiksi meliputi distingsi, kontribusi keislaman, referensi dan data, bahasa dan gaya penyampaian, teknis editorial dan tampilan fisik. Sedangkan untuk kategori terjemahan meliputi kesepadanan makna, keselarasan bahasa, kontribusi keislaman serta tampilan fisik.
Dari sisi konsep promosi dan publikasi IBF ke-11 tahun 2012 nanti, seperti apa?
Di usia pameran IBF yang ke-11 nanti, promosi dan publikasi yang dilakukan meliputi penambahan media, perluasan distribusi media, ketepatan media-media yang tepat sasaran serta keragaman media yang meliputi media cetak, elektronik, outdoor dan lain-lain.
Media yang mendukung even pameran buku terbesar ini, diantaranya Media elektronik TV One, Radio Dakta, Website dan jejaring sosial lainnya. Dari Media Cetak ada Republika, Majalah Sabili, Majalah Ummi, Majalah Tarbawi, Majalah Hidayatullah, Era Muslim, Media Umat, Majalah Gontor, HU Sindo, Majalah Gatra.
Terakhir, apa harapan panitia untuk IBF ke-11 ?
Dapat sukses menyelenggarakan kegiatan IBF ke-11 tahun 2012, tanpa hambatan yang berarti sesuai dengan apa yang sudah direncanakan. Pada gilirannya seluruh masyarakat peserta, pengunjung, pemerhati dan seluruh yang terlibat langsung maupun para pendukung kegiatan IBF ke -11 dapat menikmati manfaat atas terselenggaranya IBF ke-11. Namun manusia hanya bisa berikhtiar dgn maksimal, hanya Allah yang maha sempurna dalam setiap hal, kami memohon kepada Allah swt diberikan pertolongan dan kemudahan dalam melaksanakan kegiatan IBF ke-11 ini.
|
|
Terjun ke Bisnis Buku Karena Ketagihan Membaca |
|
MUHARIZAL UMAR (Wakil Ketua II IKAPI, Bendahara Umum Islamic Book Fair 2012).
Tanggal 9 September 1954 saya dlahirkan di kota Fort De Cock, Bukitinggi. Saya adalah anak kesepuluh dari sepuluh orang bersaudara.
Di usiaku ke-11, ibu saya meninggal karena serangan jantung dan ketika saya berusia 17 tahun, ayah saya pun berpulang ke Rahmatullah karena penyakit yang sama dengan ibu saya. Saya menyelesaikan pendidikan SD, SMP dan SMA berkat bantuan kakak-kakak saya yang pada waktu itu belum ada yang mapan. Belum ada yang mampu berperan sebagai pengganti orang tua seutuhnya, baik secara moril maupun materil. Sembilan orang bersaudara (satu kakak laki-laki saya meninggal sebelum ibu). Tanpa ibu dan ayah membuat kami hidup dan berkembang mengikuti kemauan masing-masing, walaupun kami tetap selalu berusaha kompak. Kakak-kakak saya mencoba memikul tanggung jawab bersama atas adik-adiknya. Ada juga di antara kami yang diasuh oleh keluarga dekat.
Selepas SMA keluarga saya belum mampu membiayai kuliah saya. Akibatnya, saya terpaksa mengikuti kakak untuk berdagang. Dialah satu-satunya yang memiliki jiwa pengusaha di dalam keluarga kami, kakak-kakak yang lain ada yang pegawai negeri seperti ayah dan yang lain pegawai swasta. Bertahun-tahun saya menjalani irama perjalanan hidup sebagai pedagang, pengalaman yang memberi bekal dalam menapak bisnis perbukuan.
Semenjak mulai mengenal huruf, saya sudah senang membaca, saya membaca buku, majalah, koran dan apa saja. Saya lebih senang duduk membaca daripada ngobrol berkepanjangan. Kemanapun saya pergi saya berusaha membawa buku, khususnya buku-buku novel dan sastra terjemahan. Sebelum tidur saya biasa membaca. Saya sangat menikmati karya Boris Paternak “Dokter Zhivago” dan karya YB. Mangunwijaya, “Burung-burung Manyar”. Tanpa saya sadari, buku-buku tersebut diterbitkan oleh Penerbit Djambatan yang pemiliknya masih keluarga dekat dari pihak ibu.
Pada tahun 1987, seorang perempuan usia enampuluhan sepupu ibuku mencari saya. Dia mengaku diutus oleh Ibu Roswitha Pamuntjak, yang kemudian saya ketahui adalah Direktur dan pemilik PT Djambatan yang tak lain adalah keluarga dekat ibu saya. Beliau meminta saya datang ke kantor PT Djambatan. Ini merupakan bukti dari rasa tanggung jawabnya sebagai keluarga yang ingin membantu agar saya berkesempatan mengembangkan diri. Di luar dugaan, beliau menawarkan 50% bea siswa kepada saya untuk kuliah dan yang 50% lagi saya bayar dengan bekerja di PT Djambatan. Namun, sebelum bekerja di Djambatan, saya tetap harus mengiktui test masuk kerja. Saya harus menjawab berbagai pertanyaan sekitar wawasan, minat dan pengalaman dengan buku. Ketika Ibu Roswitha menguji saya tentang minat baca, dia tanya, “Suka Baca buku?” Saya jawab, “Suka”. “Buku apa saja yang sudah kamu Baca?” Saya sebutkan beberapa judul antara lain, ‘Dr. Zhivago’ dan ‘Burung-burung Manyar’. Beliau terkejut, dan kurang percaya, karena Dr. Zhivago tergolong bacaan yang berat, kemudian beliau meminta saya menjelaskan secara singkat tentang isi buku tersebut. Dengan lancar aku menceritakannya kejadian-kejadian di dalam kedua buku itu karena ceritanya masih segar dalam ingatan saya. Beliau sangat terkesan dengan jawaban saya dan langsung meminta kepada Pak Sjarifudin (Wakil Direktur PT. Djambatan, yang juga kerabat jauh ibuku) untuk mengurusi segala kebutuhan saya dalam mendaftar kuliah dan bekerja sebagai tenaga pemasaran di PT Djambatan. Ternyata membaca memang membawa nikmat!.
Saya kuliah di sebuah Universitas swasta di Jakarta. Awalnya saya memilih Fakultas Hukum karena aku pikir saat itu - era pemerintahan Soeharto -- banyak sekali koruptor di Indonesia ini tetapi hampir tidak ada yang dipidanakan. Tetapi Ibu Roswitha berkehendak lain, beliau hanya akan mengizinkan kalau saya mengambil jurusan manajemen atau bisnis. Akhirnya, saya mengambil Ilmu Administrasi Niaga. Jadilah saya mahasiswa yang sekaligus pegawai bagian pemasaran PT Djambatan. Aku memperoleh tempat tinggal di paviliun kantor, gratis. Memperoleh upah yang cukup walaupun sebagian sudah disisihkan untuk biaya kuliah dan beli buku.
PT Djambatan adalah sebuah penerbit buku umum yang sebagian besar terbitan buku-bukunya dipakai di perguruan tinggi, seperti ilmu hukum (50%), teknik; arsitertur, mesin, sipil (20%), sastra dan budaya (20), sisanya peta/atlas, ilmu kedokteran dan lain-lain 10%. Buku-buku penerbit Djambatan lebih banyak bermain ditoko-toko buku seperti Gramedia, Gunung Agung dan toko buku tradisional lainnya serta sekali-sekali ada pembelian proyek pemerintah. Selesai S1 tahun 1991 saya menjadi manajer pemasaran. Potensi besar perusahaan waktu itu adalah Peta Jakarta Jabotabek dan City Map yang disusun oleh seorang Jerman, mantan Manager Lufthansa, Gunther W. Holtorf. Kelesuan penjualan buku reguler waktu itu karena maraknya pembajakan buku perguruan tinggi mulai tertolong dengan hadirnya peta-peta ini. Kerja sama Djambatan dengan Gunther W. Holtorf ini sangat solid. Setiap edisi selalu ditunggu-tunggu oleh pasar. Peta Jabotabek terbit setiap 1,5 - 2 tahun dengan tiras 80.000 eksemplar dan setiap edisi baru selalu ada data dan informasi baru yang sangat dibutuhkan oleh pemakai. Keunggulan Peta Jabotabek ini adalah selalu memberikan informasi baru tentang perumahan, gedung baru, perkantoran, jalan baru, rumah sakit, sekolah, pompa bensin bahkan sampai kepetunjuk jalan satu arah atau dua arah. Dengan kata lain, apapun yang terlihat dari foto udara atas Jakarta dan sekitarnya bisa Anda temukan dalam satu peta tersebut, bahkan bangunan jalan maupun gedung yang masih merupakan planning bisa dilihat lokasinya di dalam peta ini dan setiap edisi baru jangkauannya semakin meluas. Inilah keunggulan Peta Jabotabek dari Djambatan yang berhasil memanjakan para pemakainya.
Di era tahun 70 - 80 ramai penerbit menjadi distributor tunggal atas buku-buku sekolah yang diterbitkan oleh Inggris dan Singapura. Buku-buku pelajaran tersebut dipakai oleh hampir seluruh sekolah di Indonesia dan ketika itu baru satu dua penerbit yang mampu melakukan terobosan itu, di antaranya penerbit Djambatan. Memasuki awal tahun 80-an, mulai ada yang menjual bajakan atas buku-buku pelajaran tersebut dan juga sudah mulai ada penerbit lain yang menerbitkan buku yang mirip-mirip dengan buku-buku impor tersebut. Hal inilah yang kemudian lambat laun melemahkan kondisi pemasaran buku pelajaran import tersebut dan kemudian muncul lagi penerbit-penerbit pemilik percetakan besar yang menjual langsung buku-bukunya ke sekolah-sekolah dengan menghalalkan berbagai cara. Semenjak itu Djambatan tidak lagi bermain di buku pelajaran sekolah, karena tidak mampu lagi menyaingi cara-cara yang dipakai oleh penerbit-penerbit baru itu. Banyak penerbit lama seusia Djambatan yang gulung tikar karena kondisi tersebut, tetapi Djambatan, di bawah kepemimpinan Ibu Roswitha Pamuntjak, tetap berjalan dengan mengembangkan penerbitan buku umum dan semakin membaik dengan meningkatnya pemasaran Peta Jabotabek. Tahun 1995 Ibu Roswitha Pamuntjak meninggal akibat kanker. Tahun berikutnya saya diangkat menjadi Kepala Divisi Usaha, setingkat di bawah Direktur yang waktu itu dijabat oleh Sjarifudin. Djambatan tetap berjalan dengan stabil dengan cermat menyiasati perubahan yang terjadi pada bisnis perbukuan dari waktu ke waktu.
Pada tahun 2003, seorang teman lama, Syaiful Zein, mengajak saya bergabung sebagai pengurus IKAPI DKI Jakarta, untuk menambah wawasan. Saya setuju. Tahun itu juga, di bawah kepemimpinan Bakry Yunus, saya menjadi pengurus Bidang Promosi dan Publikasi. Di kepengurusan berikutnya, dengan ketua Lucya Andam Dewi, saya menjadi Wakil Sekretaris. Impian kami, ingin lebih banyak memberikan kesempatan kepada anggota untuk mengembangkan diri. Di pameran kami memberikan kesempatan kepada anggota untuk berpromosi. Di bidang pendidikan sepanjang tahun hampir setiap bulan kami mengadakan diklat-diklat dengan biaya yang sangat murah dan nyaris gratis. Tahun berikutnya saya kuliah pascasarjana (S2) jurusan marketing, selesai MM tahun 2004. Pada akhir tahun 90-an, setelah reformasi sosial politik, adalah momen kebangkitan penerbitan buku-buku Islam. Sejak itu saya ingin Djambatan lebih banyak menerbitkan buku-buku agama Islam dengan perhitungan, pasarnya luas, umur produk panjang dan sumber naskah tidak sulit. Tetapi orang-orang tua di Djambatan membutuhkan waktu terlalu lama untuk memahami perubahan itu, sehingga sampai pada suatu ketika seorang ulama mengajak saya bergabung untuk menerbitkan buku-buku Islam. Sang Ulama yang kami sebut saja Pak Umay M. Dja’far Sieddiq, MA. adalah seorang ilmuwan yang mendalami Al-Quran dan Sunnah, Memiliki keinginan yang sangat besar agar kualitas ibadah umat terus ditingkatkan. Telah banyak buku yang ditulisnya, tetapi masih sebatas hanya untuk memenuhi kebutuhannya dalam mengajar. Oleh karena itulah saya yang sudah berpengalaman di penerbitan buku ini diminta bergabung.
Tahun 2005 saya pensiun dini dari Djambatan dan mulai menakhodai penerbit buku agama Islam Al-Ghuraba, yang artinya “lain daripada yang lain” atau dengan kata lain, tidak mengikuti arus. Pada tahap awal kami tidak memelihara salesman atau ekspedisi karena buku terbitan kami belum banyak. Buku selesai dicetak dari gudang percetakan langsung dikirim ke gudang distributor, tanpa memerlukan gudang. Kami serahkan distribusi dan penjualan kepada distributor tersebut, setiap bulan kami menerima laporan penjualannya. Stock di toko buku bisa dikontrol melalui internet. Kami berusaha memenuhi target produksi buku rata-rata satu bulan satu buku, alhamdulillah sampai saat ini kami telah menerbitkan 60 judul buku.
|
|
Peraih IBF Award Dari Masa Ke Masa |
|
IBF Award Ke-1 Tahun 2005
Penulis Produktif kategori Fiksi : Fahri Asiza
Penulis Produktif Kategori Nonfiksi : M. Quraish Shihab
Buku Islam Terlaris Kategori Fiksi: Kipas-kipas di Langit, Karya Pipiet Senja, Penerbit Zikrul Hakim
Buku Islam Terlaris Kategori Nonfiksi : Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual ESQ, Penulis Ary Ginanjar Agustian, Penerbi Agra Publishing
IBF Award Ke-2 Tahun 2006
Tokoh perbukuan Islam : Helvy Tiana Rosa
Buku Islam Terbaik Kategori Fiksi Anak : Jas Hujan Buat Abi, Penulis Fahri Asiza, Penerbit Cakrawala Publishing
Buku Islam Terbaik Kategori Fiksi Dewasa : Ayat-ayat Cinta, Habiburahman El-Shirazy, Penerbit Republika
Buku Islam Terbaik Kategori Nonfiksi : Wajah Peradaban Barat dari Hegemoni Kristen Ke Dominasi Sekular Liberal, Penulis Adian Husaini, Penerbit Gema Insani
IBF Awar Ke-3 Tahun 2007
Tokoh Perbukuan Islam : Herry Hendrayana Haris (Gola Gong)
Buku Islam Terbaik Kategori Fiksi Anak: Suri Cuci Kakek Dulhak, Penulis K Usman, Penerbit Cakrwala Publishing
Buku Islam Terbaik Kategori Nonfiksi : Tren Pluralisme Agama, Penulis Dr. Anis Malik Thoha, Penerbit Perspektif
Terjemahan Terbaik : Fiqih Sunnah, Penulis Sayyid Sabiq, Penerjemah Hasanudin LC, Penerbit Pena Pundi Aksara
IBF Award Ke-4 Tahun 2008
Tokoh Perbukuan Islam : Haidar Bagir
Buku Islam Terbaik Kategori Fiksi Anak : Ria Penulis Cilik, Penulis Dewi Candika, Penerbit Dar Mizan
Buku Islam Terbaik Kategori Fiksi Dewasa: Istana Kedua, Penulis Asma Nadia, Penerbit Gramedia Pustaka Tama
Buku Islam Terbaik Kategori Nonfiksi : Muslim Demokrat, Penulis Saiful Mujani, Penerbit Gramedia Pustaka Tama
IBF Award Ke-5 Tahun 2009
Tokoh Perbukuan Islam : Prof. Dr. M. Quraish Shihab, MA
Buku Islam Terbaik Kategori Fiksi Anak : Ibuku Chayank, Muach, Penulis Sri Izzati, Penerbit Dar Mizan
Buku Islam Terbaik Kategori Fiksi Dewasa : The Road To The Empire, Penulis Sinta Yudisia, Penerbit Lingkar Pena Publishing
Buku Islam Terbaik Kategori Nonfiksi: Muhammad Saw, The Super Leader Super Manage, Penulis Dr. Muhammad Syafii Antonio, Penerbit Tazkia Multimedia & Pro LM Center
Terjemahan Terbaik : 5 Tantangan Abadi Terhadap Zaman, Penulis Saiyid Fareed Ahmad & Saiyad Salahudin, Perjemah Rudi Harisyah Alam, Penerbit Mizan
|
|
Islamic Book Fair untuk Membangun Umat |
|
Jakarta: Ibu Negara Ani Bambang Yudhoyono hari Sabtu (1/3) pagi menghadiri acara pembukaan Islamic Book Fair 2008, di Istora Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta. IBF 2008 ini bertema Ukhuwah Membangun Kemandirian Umat, menampilkan 203 stand
|
|