Perubahan

Ngacapruk

Kang, mengapa IBF 2017 pindah ke JCC Senayan, kan biasanya di Istora? Apakah ada jaminan jumlah pengunjungnya akan seramai di Istora, bukankah kalau di JCC Senayan pameran buku selalu sepi? Mengapa juga penyenggaraannya 5 hari, kan biasanya 10 hari? Mengapa juga ada ticket masuk Rp 5 ribu, padahal biasanya gratis? Dan seabreg pertanyaan lain yang nadanya menyangsikan perhelatan IBF 2017 akan berlansung sebaik di Istora Senayan.

Tidak mudah memang menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Walaupun saat peluncuran IBF 2017 beberapa bulan yang lalu, panitia mengemukakan berbagai alasan, ternyata tidak mampu menjawab kesangsian calon peserta pameran. Mulai dari alasan ketidakmungkinan pameran di Istora Senayan yang lagi direnovasi untuk Asian Games 2018, JCC yang lebih nyaman, sebab memang didesain untuk pameran, konsep yang lebih matang, promosi yang lebih gencar, acara yang lebih meriah, sampai pada urusan berdekatannya acara IBF 2017 dengan bulan Ramadhan.

Ternyata alasan-alasan itu tidak sepenuhnya bisa diterima. Banyak calon peserta yang ragu. Ada yang memutuskan tidak ikut, mengurangi jumlah stand, membatalkan stand yang sudah dipesan, atau ikut serta tetapi tetap menyangsikan event itu akan berlangsung dengan meriah.

Namun panitia memang tidak punya pilihan lain, selain tetap menyelenggarakannya. Selain merupakan amanat musda Ikapi DKI Jakarta, juga ada pertimbangan strategisnya. Pertama, jika IBF tidak berlangsung, maka akan tidak mudah melakukannya di tahun akan datang. Ini berhubungan dengan kepercayaan. Kedua, IBF ini sudah bukan milik Ikapi DKI Jakarta. IBF ini sudah milik umat. Berbagai pesantren, sekolah, lembaga, dan komunitas keislaman telah menjadi IBF sebagai agenda tahunannya. Ketiga, ada tanggungjawab moral pada pengembangan dunia literasi Islam. Saat semangat keberagaman begitu kuat, maka sebagai elemen bangsa, IKAPI DKI Jakarta perlu tetap berkomiten turut mencerdaskan bangsa melalui kegiatan melek literasi.

Syukur Alhamdulillah kesangsian-kesangsian itu bisa dijawab saat event berlangsung. Selama lima hari, pengunjung begitu ramai. Bahkan, sangat ramai. Ada puluhan ribu pengunjung setiap harinya. Ada ratusan ribu, mungkin jutaan buku yang terjual. Acara-acara yang selalu ikuti audien. Arena Kidzone yang selalu dipadati. Dan kemeriahan lainnya.

Bagi saya, IBF kali ini membuktikan tentang esensi sebuah perubahan. Perubahan itu tidak mudah dilakukan, selalu disangsikan keberhasilannya. Bahkan, terkadang harus babak belur, terasing, dan jalan yang sangat berisiko. Oleh sebab itu, saya sangat mengapresiasi sahabat-sahabat penerbit, penulis, ulama, media massa, pesantren, Jaringan Sekolah Islam Terpadu, dan berbagai pihak yang mendukung IBF 2017 berlangsung dengan baik. Inilah “Kaum driver” yang memungkinkan IBF naik derajat.

Mungkin benar kata seorang pakar manajeman, “Jika melakukan sesuatu sekarang kita dapat memanennya suatu saat di hari esok. Bila kita memulainya dengan kata ‘nanti, besok, atau kapan-kapan’, maka kita akan bangkrut dengan ketidakpastian yang dibuat sendiri.” Itulah sebabnya kita perlu berubah, sebab berubah berarti beradaptasi, menyesuaikan diri, dan menjadi lebih berdaya untuk mempertahankan dan meneruskan kehidupan. Salam. #catatanHK, ngacapruk siang.

Facebook Comments