|
Kebahagiaan menjadi penulis buku telah kita miliki. Kini buku telah berada dalam genggaman. Kita telah menghasilkan tiga produk buku: fiksi, nonfiksi, dan buku teks. Lalu, bagaimanakah langkah kita selanjutnya? Cukupkah kita berbangga dengan kumpulan kertas bertulis itu? Tentu saja tidak. Kita harus memasarkan buku-buku itu. Buku-buku itu harus dibaca, dimiliki, dan dibeli orang lain. Cukuplah kita menyimpan 5 buah untuk setiap jenisnya. Tentu itu bertujuan untuk koleksi perpustakaan dan dokumentasi pribadi. Lalu, bagaimanakah strategi pemasaran buku?
Menurutku, ada tujuh strategi pemasaran buku. Ketujuh strategi itu adalah memanfaatkan media elektronik, memasang iklan, mengadakan bedah buku, menggelar konferensi pers, mengadakan komunikasi dengan resensator, memanfaatkan kolega, dan memanfaatkan kesempatan.
Memanfaatkan Media Elektronik
Media elektronik adalah media yang menggunakan kelistrikan melalui pemanfaatan gelombang atau frekuensi tertentu. Artinya, media elektronik dapat meliputi televise, radio, internet, dan email. Strategi pemasaran buku dapat menggunakan semua jenis itu. Pemanfaatan televise dan radio dilakukan dengan pemberitahuan tentang produk kita. Pada kesempatan tertentu, televise dan radio kadang membutuhkan buku-buku tertentu sebagai referensi acara. Kita tidak perlu malu untuk berkunjung ke studio. Kita tidak bermaksud mencuri. Justru kita bertujuan membantunya. Lalu, tunjukkan karya-karya kita. Biasanya mereka menyambut hangat kedatangan kita.
Melalui internet, kita dapat memasarkan buku-buku itu melalui blog pribadi dan atau keroyokan, seperti di sini: kompasiana. Menurutku, admin kompasiana mengizinkan kita selagi memang itu buku yang ditulis kita sendiri. Artinya, kita tidak menjual produk orang lain. Bahkan, menurutku, admin akan merasa bangga karena salah satu anggota keluarganya mampu menulis buku.
Aku pun melakukan hal yang sama. Aku sering memamerkan buku-buku yan kutulis itu. Tentu saja aku bertujuan untuk memotivasi dan menginspirasi pembaca, terkhusus kompasianer. Jadi, aku tidak bermaksud pamer. Semua itu semata-semata bertujuan untuk menunjukkan bahwa kita tidak hanya pandai berteori, bertutur kata. Namun, kita benar-benar telah berkarya nyata.
Memasang Iklan
Strategi ini juga aku lakukan. Aku memasang iklan untuk beragam kegiatan. Ketika anak-anak kampungku ingin mengikuti kompetisi sepakbola, aku menyediakan 18 seragam bergambar bukuku. Lalu, penerbitku pun memasang iklan di beberapa tempat, semisal kalender, blog, seminar dan lain-lain. Iklan memang menjadi pilihan bijak. Dengan beriklan, kita akan memperoleh keuntungan. Memang kita harus keluar biaya untuk itu. Namun, itu pun akan terbalas dengan laju penjualan buku-buku kita.
Mengadakan Bedah Buku
1295394650281309754
Setiap kesempatan harus dimanfaatkan untuk memasarkan buku.
Beberapa waktu lalu, penerbitku mengadakan bedah buku dan pemberian penghargaan bagi tokoh pendidikan di daerahku. Kita mengundang banyak kalangan, baik itu tokoh pendidikan maupun birokrat. Alhamdulillah, acara itu terlaksana lancer. Pada kesempatan yang sama, aku memamerkan produk-produk itu. Ternyata, mereka – para tamu – menyambut antusias buku-bukuku. Bahkan, mereka tak pernah mengira bahwa aku dapat menulis buku sebanyak ini.
Gayung pun bersambut. Mereka berkeinginan untuk menggunakan buku-buku itu di daerahnya. Tentu saja aku menyambut keinginan itu dengan senang hati. Asalkan kita santun bersikap dan gemar berbagi, mereka welcome saja. Bahkan, aku sering diundang untuk dikenalkan dengan guru-guru di daerahnya.
Mengadakan Jumpa Pers
Ketika buku sudah terbit, aku mengundang rekan-rekan jurnalis atau wartawan. Aku mengadakan jumpa pers. Kita harus memahami peran dan peranan media massa. Mereka mempunyai posisi strategis untuk pemasaran produk. Jadi, kita harus memanfaatkan posisi itu.
Memang kita harus mengeluarkan biaya lebih. Namun, yakinlah bahwa itu akan kembali menjadi keuntungan secara berlipat. Karya-karya itu akan diliput, diekspos, dan dikenalkan kepada masyarakat luas. Maka, tak heran jika aku sering diundang pembaca dari penjuru daerah. Semua disebabkan jasa rekan-rekan wartawan.
Mengadakan Komunikasi dengan Resensator
Resensator adalah orang yang gemar meresensi buku dan atau produk lain. Mereka akan menilai kelayakan buku-buku kita. Penilaian itu selalu berimbang dengan menunjukkan kelebihan (keunggulan) dan kekurangan (kelemahan) buku itu. Namun, keunggulan sering ditonjolkan daripada kelemahannya.
Tidak sulit kita menemukan resensator. Cukup kita membaca resensi buku setiap edisi minggu di koran cetak. Lalu, kita menghubungi redaksi untuk menanyakan alamatnya. Biasanya redaksi tidak keberatan member alamat resensator.
Jika sudah bertemu dengan resensator, silakan “titip pesan”. Maksudnya, buku-buku kita supaya dikupas dari sisi positifnya. Lalu, kita pun hendaknya gemar memberi. Selain member buku-buku yang akan diresensi, hendaknya kita memberikan uang sekadar untuk membeli teman membaca buku itu. Yakinlah itu akan kembali.
Memanfaatkan Kolega
Kita tentu mempunyai profesi tertentu. Di lingkungan kerja kita, tentu ada pimpinan atau orang yang berpengaruh. Maka, manfaatkanlah mereka untuk mengenalkan buku-buku itu. Mereka pasti menyambut positif keinginan kita itu.
Aku pun sering memanfaatkan kolega. Itu tidak salah. Kita adalah penulisnya. Jadi, kita pasti menjadi orang yang paling tahu kelebihan isi buku itu. Setiap berkunjung ke suatu daerah, aku selalu menyempatkan diri untuk bertemu pimpinan instansi. Maka, wajar-wajar saja jika aku mempunyai banyak kolega. Mereka sebenarnya juga memerlukan kita. Hanya saja, mereka belum mengenal kita.
Memanfaatkan Kesempatan
Jika sudah menjadi penulis buku, kita akan sering diundang oleh penggemar dan pembaca buku kita. Ringanlah kaki dan gemarlah member. Ketika menjadi pembicara itulah, hendaknya kita memanfaatkan kesempatan untuk menunjukkan kelebihan karya-karya kita. Tidak perlu malu.
Aku pun teramat gemar memamerkan buku-buku itu. Mereka senang sekali karena mereka bertemu langsung dengan penulisnya. Jadi, memanfaatkan kesempatan itu baik-baik saja. Selagi caranya arif dan tetap berkoridor kesantunan, semua boleh dilakukan.
Begitulah para sahabat. Sekadar berbagi kisah tentang perjalanan kepenulisanku. Jadi, hendaknya kita tidak hanya mengandalkan penjualan para sales atau retail. Itu akan berlangsung lama dan hasilnya tidak menggembirakan. Semoga kisah ini bermanfaat. Amin.
sumber: http://media.kompasiana.com/buku/2011/01/19/strategi-pemasaran-buku/
|
|
Meneladani Minat Baca Para Tokoh |
|
Selama ini publikasi pengalaman membaca para pejabat dan tokoh kurang terpublikasi dengan baik di tengah-tengah masyarakat. Padahal mereka adalah teladan atau panutan masyarakat, termasuk membaca. Kampanye meningkatkan minat baca tanpa menggali dan memasyarakatkan pengalaman mereka rasanya tidak lengkap.
Melirik sisi kecil pengalaman membaca Bung Hatta–Wakil Presiden Republik Indonesia yang pertama, memberi kesan dalam pikiran kami betapa pentingnya pengalaman membaca seorang tokoh membantu meningkatkan motivasi minat baca masyarakat.. Beliau menjadikan membaca sebagai sebuah kegiatan penting dalam hidupnya, tidak sekedar menghimbau rakyatnya untuk membaca.
Membaca buku adalah segala-galanya, demikian pengalaman Bung Hatta!. Di dalam penjara yang sepi, buku menjadi pendamping setianya. Beliau memberi nilai yang tinggi terhadap buku. Buku hasil karyanya “Alam Pikiran Yunani” diberikan sebagai mahar ketika beliau meminang istrinya Ibu Rahmi..
Muhammad Hatta adalah mantan pejabat tinggi di negara ini. Kalau Muhammad Hatta adalah teladan dalam membaca, maka para pejabat, tokoh masyarakat di daerah juga seharusnya menjadi panutan dalam membaca buku, memiliki pengalaman yang memberi inspirasi mengundang masyarakat untuk membaca.
Artikel ini mencoba menggugah para pejabat dan tokoh, serta menghimbau lembaga berwenang memfasilitasi mereka dalam rangka mendukung kampanye meningkatkan minat baca melalui penggalian pengalaman membaca para pejabat, tokoh masyarakat yang menginspirasi.
*** Kalau kita melongok sekilas kebiasaan pemimpin dunia, maka dengan mudah kita mengetahui buku-buku yang dibacanya, kesaksian secara terbuka tentang buku-buku favorit mereka. Sebagai tokoh, mereka tidak terlepas dari kegiatan membaca buku. Mereka dikenal tidak hanya sebagai seorang pejabat, tetapi juga seorang yang gemar membaca buku dan memiliki kesaksian atas buku-buku yang mereka baca.
Bill Clinton dikenal sebagai seorang presiden yang mencantumkan buku favoritnya: One Hundred Years of Solitude, karya Gabriel Garcia Marquez, Bill Gates dengan buku The Catcher in the Rye, karya JD Salinger, Laura Bush: The Brothers Karamazov, karya Fydodor Dostoyevsky, Oprah Winfrey: To Kill a Mockingbird, karya Harper Lee.
Sayangnya, dalam pengamatan kami para pejabat dan tokoh-tokoh di daerah ini belum banyak mengungkap pengalaman membaca mereka baik di media maupun dalam pidato-pidatonya. Seolah semua prestasinya diperoleh dengan mendengar atau praktek di lapangan. Tanpa membaca!.
Kenyataan ini kami temukan saat melakukan searching di mesin pencari Google atau Yahoo. Dengan menggunakan kata kunci “pengalaman membaca para pejabat dan tokoh di Sumatera Utara” dan “minat baca para pejabat atau tokoh di Sumatera Utara”. Di dunia maya, belum pernah seorangpun pejabat atau tokohpun di daerah ini yang mengungkapkan pengalaman membaca dan manfaat membaca dalam karier dan hidupnya.
Sementara artikel-artikel yang membahas minat baca para siswa dan masyarakat cukup banyak diungkap. Dengan menggunakan kata kunci: “Minat baca siswa Sumatera Utara yang rendah”, “Minat baca pelajar Sumatera Utara yang rendah”. “Minat baca masyarakat Sumatera Utara”, kami menemukan puluhan bahkan ratusan artikel. Artinya, selama ini sisi para siswa dan masyarakatlah yang banyak disorot soal minat baca.
Artinya, kampanye minat baca masyarakat tidaklah lengkap tanpa disertai pengalaman, sebagai teladan atau model membaca. Bukan berati para pejabat kita tidak punya pengalaman atau tidak memiliki minat baca. Kami yakin, seorang pejabat atau tokoh seyogianya adalah seorang pembaca yang baik. Bisa jadi inilah wujud kealpaan kita pentingnya keteladanan, termasuk dalam hal membaca. Peran pata pejabat dan tokoh meningkatkan minat baca adalah melalui pengisahan pengalaman membaca. Karena mereka adalah panutan siswa, pelajar maupun masyarakat pada umumnya. Dua sisi yang perlu mendapat perhatian yang seimbang dalam mendukung kampanye meningkatkan minat baca. Masyarakat bukan objek penderita, mereka memerlukan keteladanan dari para pejabat dan tokoh-tokoh di sekitarnya.
*** Bisa dibayangkan betapa gencarnya kampanye minat baca, kalau disertai dengan pengalaman membaca para pejabat dan tokoh-tokoh yang berkisah tentang pengaruh membaca dan kisah sukses yang mereka capai. Pidato-pidato mereka akan terdengar merdu dan mengasyikkan. Media menyebarkannya hingga dibaca penduduk desa yang terpencil sekalipun. Masyarakat luas akan mendengar dan melihat secara nyata manfaat membaca.
Pengalaman membaca seorang pejabat (apakah Gubernur, Wakil Gubernur, Bupati, Walikota, Kepala-kepala Perpustakaan, Dinas Pendidikan dan pejabat lainnya), termasuk tokoh-tokoh terkenal di tengah masyarakat merupakan teladan yang sungguh-sungguh dan nyata. Mereka adalah teladan yang dengan mudah akan ditiru masyarakat. Saya ingat, ketika gerakan mengolah ragakan masyarakat di zaman Orde Baru juga disertai dengan gerakan yang juga dilakukan oleh kantor-kantor pemerintah, termasuk tokoh-tokohnya.
Sekali lagi, kita yakin, para pejabat dan tokoh-tokoh masyarakat di daerah ini adalah mereka yang gemar membaca, memiliki pengalaman membaca yang mampu menginspirasi pembaca. Hanya saja belum di publikasikan secara meluas. Kisah-kisah atau pengalaman membaca para pejabat dan tokoh mampu memberi warna lain bacaan masyaakat. Untuk mewujudkan kisah pengalaman para pejabat dan tokoh dalam rangka turut mendukung dan menginspirasi minat baca masyarakat, maka pelaksanaannya bisa ditempuh secara bertahap.
Pertama, Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah melakukan inventarisasi para pejabat dan tokoh yang menonjol pengalamannya dalam hal membaca dan memiliki kisah yang menginspirasi para pembaca. (Silakan dibuat sendiri. Misalnya pejabat atau tokoh yang paling banyak membeli buku, mengunjungi perpustakaan, membaca buku serta aplikasinya dalam pekerjaannya dan mencapai sukses seperti sekarang ini). Paling tidak dalam tahun pertama bisa menampilkan dua atau tiga kisah di setiap Kabupaten/Kota. Kisah ini akan dikomunikasikan dalam peristiwa-peristiwa penting, serta diliput secara luas oleh media.
Kedua, mendorong media dan para penulis menggali kisah sukses seorang pejabat atau tokoh dengan menyertakan pengalaman membaca buku, serta pengaruh buku tersebut dalam kariernya, menghadapi permasalahan hidupnya. Lembaga pemerintah, media, penerbit buku sudah saatnya mempubilkasi atau menerbitkan citra seorang pejabat atau tokoh sebagai pembaca buku. Profil seorang perjabat atau tokoh hendaknya tidak hanya memandangnya dari sisi pencapaian fisik, seperti seperti mobil yang dipakainya atau dimilikinya, olah raga yang diminatinya, jenis dan kualitas pakaian, rumahnya atau merk jam tangannya. Mereka juga adalah pembaca buku dan belajar dari buku. Tanpa membaca buku, mereka tidak seperti sekarang ini!
Pengalaman mereka merupakan khotbah jitu untuk mengalihkan perhatian 66 persen penduduk usia 10 tahun ke atas yang masih lebih menyukai menonton televisi dari pada membaca untuk mengisi waktu luangnya Pepatah lama mengatakan, “Kalau guru kencing berdiri, murid kencing berlari”. Kalau pejabat dan tokoh-tokoh masyarakat tidak memiliki pengalaman membaca yang lebih menginspirasi dari masyarakat yang dibinanya, maka siapakah yang menjadi panutan?.
Para pejabat dan tokoh sudah saatnya bertanya sesama mereka, “Buku apa yang anda baca hari ini, mari kita beritahukan kepada masyarakat manfaat buku itu?”. Mudah-mudahan ide ini semakin memperkuat strategi kampanye meningkatkan minat baca masyarakat kita. Hayo, siapa yang mau jadi modelnya?
Penulis: Jannerson Girsang merupakan penulis Biografi, tinggal di Medan.
|
|
IBF Mengangkat Nasyid Melalui INI - INA |
|

Memasuki tahun ke-11 penyelenggaraannya, Islamic Book Fair nampaknya bukan hanya sebagai 'pesta' nya para penerbit dan pecinta buku Islam saja, namun juga ‘pesta’ nya beberapa komunitas yang sering menjadikan IBF sebagai ajang silaturahmi untuk anggota komunitas mereka. Salah satu yang menjadikan IBF sebagai agenda yang wajib diikuti adalah komunitas pecinta nasyid.
Sebagai salah satu jenis aliran musik ber-genre religi, nasyid memang sudah memiliki tempat dihati para pecintanya. Di Indonesia saja sudah tercatat beberapa perkumpulan dan komunitas mereka, sebut saja ANN (Asosiasi Nasyid Nusantara) dan FSNI (Forum Silaturahmi Nasyid Indonesia). Kedua komunitas tersebut memiliki anggota di hampir seluruh wilayah di Indonesia.
‘Rasa memiliki’. Itulah mungkin ungkapan yang tepat untuk menggambarkan perasaan komunitas pecinta nasyid terhadap Islamic Book Fair. Hal ini dirasa tidak berlebihan, karena sejak pertama penyelenggaraannya, IBF selalu mengadakan ajang pencarian bakat berupa lomba nasyid yang setiap tahunnya selalu disambut antusias oleh mereka.
Meski tidak sepopuler genre musik lain seperti pop, rock, atau bahkan mungkin dangdut, nasyid terbukti tetap eksis di jalurnya seolah tidak gentar menghadapi gempuran popularitas genre musik lain. Sebut saja Snada, Opick, Haddad Alwi, dan Sulis yang tetap konsisten berkiprah di jalur musik religi. Bahkan kiprah mereka banyak diikuti oleh penyanyi-penyanyi lain yang notabene bukan penyanyi nasyid (religi) seperti Ungu, Wali, Syahrini, Afgan, dan beberapa penyanyi lain yang ‘ikut-ikutan’ mengeluarkan single (album) religi meski sifatnya musiman (hanya di bulan Ramadhan). Eksistensi nasyid sebagai salah satu genre musik yang mulai diperhitungkan ini semakin ditegaskan dengan mem-booming-nya penyanyi solo maupun group nasyid asal luar negeri. Setelah Raihan, group nasyid asal negeri jiran Malaysia yang cukup digemari oleh penikmat nasyid Indonesia, kini ada Maher Zain, solois asal Swedia kelahiran Lebanon yang dua tahun terakhir ini begitu populer dengan lagu-lagu religinya yang soulfull dengan kemampuan musikalitas berkelas internasional.
Fenomena tersebut semakin menegaskan bahwa nasyid akan tetap eksis selagi ada pihak-pihak yang memperhatikan dan concern terhadap perkembangan nasyid itu sendiri. Salah satu upaya yang dilakukan oleh panitia Islamic Book Fair adalah dengan tetap mengadakan ajang pencarian bakat-bakat baru dibidang nasyid lewat lomba nasyid. Lomba nasyid yang akan digelar tahun ini mengambil tema Idola Nasyid Indonesia (INI). Tema ini sengaja diangkat ditengah ramainya boyband dan girlband yang hampir setiap saat menghiasi layar televisi dengan penampilan musikalitas serta tampilan fisik yang tidak sesuai dengan kaidah Islam. Diharapkan bakat-bakat baru nasyid ini nantinya akan menjadi icon nasyid yang bisa menjadi contoh baik untuk masyarakat.
Selain lomba nasyid, panitia IBF juga akan kembali menggelar Indonesian Nasheed Awards (INA). INA adalah ajang penganugerahan yang diberikan kepada para munshid (sebutan untuk penyanyi/group nasyid) yang sudah mengeluarkan single maupun album. Tahun 2012 ini adalah kali kedua penyelenggaraan INA. Dalam ajang INA ini panitia IBF bekerjasama dengan Aliansi Radio Islam Indonesia (ARIN) dan Forum Silaturahmi Nayid Indonesia (FSNI). Penilaian untuk INA sendiri dilakukan berdasarkan banyaknya peminat (request) lagu yang sering diputar oleh radio-radio yang tergabung dalam ARIN.
INI-INA (Idola Nasyid Indonesia - Indonesian Nasheed Awards). Itulah tema besar yang diangkat panitia IBF dalam rangka memasyarakatkan nasyid di Indonesia. Untuk lomba nasyid (INI) akan mulai digelar babak penyisihannya pada 28 Januari 2012 bertempat di Mall Ekalokasari Bogor, 19 Februari 2012 di Depok Town Square, dan 25 Februari 2012 di Metropolitan Square Tangerang. Babak semifinal dan final tanggal 12 dan 14 Maret 2012 di panggung utama IBF. Sedangkan Indonesian Nasheed Awards (INA) akan digelar tanggal 17 Maret di panggung utama IBF. (Gun)
|
|
Ingin Masa Depan si Kecil Cemerlang? Biasakan Membaca |
|
REPUBLIKA.CO.ID, LONDON--Akses informasi tiada batas seharusnya memberikan peluang kepada remaja untuk banyak membaca. Jangan dulu fokus pelajaran seni musik, klub olahraga atau menonton film di bioskop. Pasalnya, semua aktivitas itu bila tanpa diselingi membaca tidak akan memberikan manfaat yang lebih besar ketika menapaki karir dimasa depan.
Itulah kesimpulan hasil riset yang dipublikasikan Universitas Oxford baru-baru ini. Riset menyebutkan remaja berusia 16 tahun yang membaca minimal satu buku selama sebulan akan menempati level managerial atau profesional pada usia 33 tahun.
Riset juga menyebutkan aktivitas lain diluar membaca seperti sosialisasi, pergi ke museum, memasak atau hal lainnya tidak akan berpengaruh terhadap karir mereka. Mereka mungkin saja berhasil asalkan diiringi dengan aktivitas membaca.
Yang menarik, riset tersebut juga menyimpulkan remaja yang banyak menghabiskan waktu untuk bermain game mungkin mengurangi kesempatan mereka masuk universitas ternama. Meski begitu, masa depan karir mereka tidak akan terganggu.
Sue Palmer, Pakar Perkembangan Anak menuturkan membaca membuat anak-anak lebih empati dan membantu mereka bersosialisasi. Menurut dia, aktivitas membaca berikan pengaruh terhadap perkembangan pada otak mereka. "Mereka tidak hanya butuh belajar tetapi juga bersosialisasi dengan masyarakat sehingga dikemudian hari mereka mampu menangani tugas-tugas managerial," kata dia seperti dikutip dari dailymail.co.uk, Jum'at (8/4).
Sebelumnya, tim peneliti di Oxford melibatkan 17.200 pria dan wanita berusia 33 tahun. Oleh peneliti, mereka diminta untuk memberitahu aktivitas yang dilakukan pada saat berusia 16 tahun. Hasilnya menunjukan, 39 persen wanita yang membaca buku menempati posisi managerial pada usia 33 tahun. Hanya 25 persen dari wanita yang tidak menempati posisi tersebut pada usia 33 lantaran aktivitas membaca yang minim.
Untuk kaum pria, peneliti mencatat 48-58 persen pria berhasil menduduki posisi manajerial lantaran mereka membaca buku. Salah seorang peneliti, Mark Taylor mengatakan ada manfaat istimewa yang bersumber pada membaca. "Membaca buku juga meningkatkan kesempatan pelajar untuk masuk universitas bagus," ujarnya
|
|
Tanggapan Ikapi Terhadap RUU Perbukuan |
|
Secara prinsip, Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) yang mrupakan asosiasi dari para penerbit Indonesia sangat mendukung langkah yang digulirkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dalam mengambil inisiatif lahirnya RUU Perbukuan. Dalam kacamata penerbit, RUU Perbukuan ini semestinya akan mampu mendorong bergairahnya dunia perbukuan Indonesia, bukan malah memasung tumbuhnya kreatifitas insan perbukuan.
Dengan bergairahnya dunia perbukuan Indonesia, masyarakat akan sangat diuntungkan karena akan terbit berbagai buku yang mampu mencerdaskan bangsa Indonesia. Sejarah telah membuktikan bahwa kemajuan suatu bangsa yang berbanding lurus dengan jumlah buku yang terbit. Tengok saja Jepang yang mampu menerbitkan buku lebih dari 60 judul per tahun. Pertanyaannya, bagaimana dengan bangsa Indonesia?
Sebagai negara yang berpenduduk sekitar 230 juta, Indonesia punya potensi besar dari sisi pengembangan sumber daya manusia. Sayangnya, potensi itu baru besar dari sisi kuantitas saja, belum tergarap secara kualitas. Budaya baca masih sangat kurang. Indonesia tergolong negara yang rendah dari sisi budaya baca. Berdasarkan data yang dilansir Organisasi Pengembangan Kerja Sama Ekonomi (OECD), budaya membaca masyarakat Indonesia terendah diantara 52 negara di kawasan Asia Timur. Mengacu kepada hasil temuan UNDP, posisi minat baca Indonesia berada di peringkat 96, sejajar dengan Bahrain, Malta, dan Suriname. Untuk kawasan Asia Tenggara, hanya ada dua negara dengan peringkat di bawah Indonesia, yakni Kamboja dan Laos. Masing-masing berada di urutan angka seratus.
Walaupun belum ada data pasti tentang jumlah buku yang terbit di Indonesia setiap tahunnya, namun kalau mengacu pada data buku baru yang masuk ke jaringan toko buku besar, seperti Gramedia, Gunung Agung,Toga Mas, dan lain-lain, yang terjadi pada tahun 2010, setidaknya Indonesia mampu menerbitkan buku baru 1.500 judul per bulan, atau setara dengan 18.000 judul per tahun. Dengan oplah rata-rata buku yang diterbitkan adalah 3.000 eksmplar, maka dalam setahun ada 54 juta buku baru. Jika dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia, maka setiap judul hanya dibaca 4-5 orang per tahun.
Celakanya lagi, penyebaran buku tidak merata. Kalau mengacu daya serap buku per wilayah (dengan mengabaikan jenis buku) ternyata 38% lebih buku diserap oleh penduduk di wilayah Jabodetabek. Daya serap daerah lainnya adalah Jawa Barat 8%, Jawa Tengah Jogjayakarta 9%, Jawa Timur dan Bali 12%, Sumatera 16%, dan wilayah lainnya sekitar 15%. Jika mengacu ke data tersebut ternyata hampir 70% buku diserap oleh penduduk yang tinggal di Pulau Jawa. Ini menunjukkan ada gap yang cukup besar dari sisi distribusi antara Jawa dan luar Jawa.
Kondisi tersebut bisa terjadi karena jumlah toko buku yang ada berkonsentrasi di Pulau Jawa. Mengacu data GATBI (Gabungan Toko Buku Indonesia), jumlah toko buku yang ada di Indonesia paling tidak sekitar 1.200-an toko buku dengan jumlah keluasan toko sangat beragam. Rata-rata toko buku di Indonesia memiliki keluasan antara 200 meter persegi sampai 5.000 meter persegi.
Belum lagi kalau kita bicara daya beli masyarakat yang tidak merata. Ketimpangan ekonomi jelas-jelas menjadi penyebab susahnya golongan yang kurang beruntung mengakses informasi lewat buku. Ini diakibatkan oleh kurangnya perpustakaan dan rumah baca. Inilah kondisi yang memprihatinkan dalam dunia perbukuan Indonesia. Walaupun secara legal formal, di beberapa wilayah seperti DKI Jakarta telah ada Peraturan Daerah yang mengharuskan setiap kelurahan memiliki satu rumah baca, namun pada hakekatnya masih susah ditemukan.
Hal lain yang juga perlu mendapat perhatian adalah masalah penghargaan atas copyright dan pembajakan buku. Pembajakan buku di Indonesia sangat marak. Antara buku yang asli dan buku bajakannya (bedanya sangat tipis) sangat mudah ditemui di kios-kios buku. Pembajakan buku in jelas-jelas sebuah pelanggaran hak cipta. Penulis dan penerbit sangat dirugikan. Pembajakan terutama terjadi pada buku-buku best seller, kamus, dan buku perguruan tinggi.
Kondisi yang cukup menggembirakan justru dengan bergairahnya komunitas perbukuan, baik komunitas penulis, komunitas pembaca atau sejenisnya. Muncullah Rumah Dunia yang digagas oleh Gola Gong, telah menjadikan contoh baik bagi menjamurkan rumah baca di seluruh Indonesia. Belum lagi ada Forum Indonesia Membaca yang setiap tahunnya merayakan World Book day. Walaupun komunitas-komunitas ini masih bergerak sendiri-sendiri dan punya sumber daya yang terbatas, tetapi ini menunjukkan betapa dunia perbukuan Indonesia mulai bergairah.
Pada level pembaca pun mengalami perkembangan yang luar biasa. Kalau selama ini pembaca hanya berperan pasif, kini mulai berubah. Munculnya event Festival Pembaca Indonesia pada bulan November 2010 menjadi indikasi pembaca makin kritis. Belum lagi munculnya komunitas-komunitas pembaca yang menggemari buku tertentu atau penulis tertentu. Kondisi yang menggembirakan juga muncul dari kalangan penulis. Setelah era Forum Lingkar Pena lewat, kini muncul kelompok-kelompok penulis yang baru, yang bergerak lebih bebas, seperti Komunitas Penulis Bacaan Anak.
Menjamurnya komunitas-komunitas perbukuan bisa jadi dipermukaan dengan mudahnya orang berinteraksi melalui dunia maya, baik melalui milis, facebook, atau twitter. Saya pikir kemudahan teknologi ini, menjadi daya pikir munculnya komunitas-komunitas tersebut. Jika dikelola dengan baik, ini akan menjadi modal besar bagi perkembangan dunia perbukuan Indonesia.
Kekuatan dunia maya juga mulai terlihat dengan mulai bergeraknya penjualan buku konvensional ke dunia maya. Selama ini kita baru mengenal toko-toko buku online, seperti Kutubuku.com, bukukita.com dan lain-lain yang menjual buku kertas secara online, kini mulai muncul penjualan e-book.
Mengacu pada data kasar, ternyata penjualan buku kertas via internet ini juga semakin meningkat. Kalau tiga tahun lalu penjualan baru mencapai kurang dari 2 persen dari omzet secara keseluruhan, pada tahun 2010 sudah bergerak pada angka 5% dari omzet buku secara nasional. Dengan asumsi penjualan buku umum sekitar 4 trilyun per tahun, maka angka lima persen menunjukkan jumlah menarik untuk diperhatikan.
Kehadiran I-pad, Galaksi tab, atau device lain buatan Cina setidaknya membuat dunia perbukuan Indonesia dihadapkan pada tantangan baru. Era e-book setidaknya perlu mendapat perhatian serius. Di Indonesia mulai mucul perusahaan yang menjual e-book, seperti Papataka.com, Bluewater.com, dan lain-lain. Bahkan Google mulai masuk juga ke e-book. Di Amerika, Google telah mulai menjual e-book sejak Desember 2010, dan di Indonesia rencananya Google akan mulai memasarkan buku berbahasa Indonesia pada pertengahan 2011. Bisa jadi era digital telah dimulai. Toko buku online yang masih menjual buku cetak ternyata telah bermetamorfosis ke era e-book.
Dengan peta seperti itu, muncul pertanyaan lanjutan: dimana sebenarnya peran pemerintah? Selama ini kebijakan-kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah lebih banyak berkaitan dengan pengadaan buku Sekolah, baik menyangkut buku teks, buku pengayaan, referensi, atau buku panduan pendidik. Hal ini terlihat jelas dalam BSE (Buku Sekolah Elektronik) atau DAK (Dana Alokasi Khusus). Padahal, dunia perbukuan Indonesia juga mengenal buku umum, yang diperdagangkan melalui jaringan toko buku. Oleh sebab itu, atas RUU Perbukuan yang digulirkan oleh DPR, Ikapi memberi tanggapan sebagai berikut:
RUU perbukuan belum secara tegas mengatur sistem perbukuan. Apakah akan mengatur segala jenis buku atau buku sekolah (buku teks, buku pengayaan, referensi atau buku panduan pendidik).
Pemerintah sebagai pemegang regulasi diharapkan tidak ikut membentuk Badan Usaha Penerbitan tetapi mendorong tumbuhnya penerbitan dan toko buku.
Pemerintah menyediakan lembaga pendidikan tinggi setingkat S-1, untuk menyiapkan tenaga profesional dalam bidnag perbukuan.
Pada prinsipnya, harga buku harus terjangkau oleh masyarakat, untuk itu Pemerintah perlu menghilangkan komponen-komponen yang melekat pada biaya produksi (PPN cetak, kertas, bahan baku), PPh 23 untuk penulis, ilustrator, penterjemah, dan PPN penjualan untuk semua jenis buku.
Pemerintah diharapkan dapat mengendalikan harga kertas untuk menstabilkan harga buku.
Pemerintah belum secara tegas mengatur pembajakan buku dan pelanggaran hak cipta.
Pemerintah bertanggung jawab terhadap peningkatan minat baca masyarakat dengan cara memfasilitasi pendirian rumah baca, perpustakaan di setiap kelurahan/desa.
Pemerintah bertanggung jawab ikut mempromosikan buku-buku dengan cara menyelenggarakan dan memfasilitasi pameran-pameran buku baik berskala nasional maupun internasional.
Pemerintah mengaktikfkan kembali peran Dewan Buku Nasional yang telah dibentuk sesuai dengan SK Presiden No. 110 tahun 1999, tanpa perlu membentuk badan Perbukuan lainnya.
Hal-hal yang bersifat teknis penerbitan sebaiknya tidak diatur dalam UU, contoh nilai royalti, desain cover buku, tata letak, ilustrasi, dan masalah teknis lainnya.
Hal-hal yang bersifat teknis penerbitan sebaiknya tidak diatur dalam UU, contoh nilai royalti, desain cover buku, tata letak, ilustrasi, dan masalah teknis lainnya.
Informasi tentang penjualan buku hanya disampaikan kepada pihak yang masih mempunyai hak cipta. Dengan demikian bagi hak cipta yang sudah dialihkan tidak perlu mendapatkan informasi penjualan buku.
Singkatnya, RUU Perbukuan yang kini tengan digodok oleh Pemerintah dan DPR, hendaknya lebih banyak mendorong pertumbuhan Industri perbukuan, sebagai salah satu industri kreatif yang menjadi andalan ekonomi masa depan.
(Lucya Andam Dewi – Ketua Umum Ikapi – sumber: warta ikapi)
|
|